Khamis, 20 Oktober 2011

Waktu senja dan apa nak buat?


Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i dan Ibn Majah mentakhrij hadis dari Jabir r.a., bahawasanya Rasulullah sa.w. berkata (maksudnya)
“Apabila telah datang senja hari, (menjelang malam),maka jagalah anak-anakmu, sebab saat itu syaitan sedang berkeliaran. Dan ketika malam sudah berjalan beberapa waktu, maka asingkan mereka (di dalam rumah) dan tutuplah pintu-pintu runahmu, lalu sebutlah nama Allah. Sebab, syaitan tidak pernah membuka pintu yang tertutup. Tutupilah semua bejanamu, dan sebutlah nama Allah S. W.T, dan kalau kamu hendak mengeluarkan sesuatu darinya, maka padamkanlah lampumu.”
Redaksi yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari berbunyi sebagai berikut: Dari Jabir ra., dari Nabi s.a.w., bahawasanya beliau bersabda (maksudnya),

“Jika malam telah tiba (ketika engkau berada pada waktu petang), maka tahanlah anak-anakmu. Sebab, saat itu syaitan sedang berkeliaran. Dan kalau sudah lewat satu saat (jam) sesudah ‘Isya, maka kurunglah mereka dalam rumah. Kuncilah pintu dan sebutlah nama Allah. Padamkan lampu-lampu kalian dan sebutlah nama Allah. Tutupi tempat air kalian dan sebutlah nama Allah, dan tudungi wadah-wadah kalian dan sebutlah nama Allah, walaupun engkau akan mengeluarkan sesuatu darinya.”
Ketika menjelaskan hadis ini, Ibn Hajar Al-’Asqalani mengatakan, “Ibn Al-Jawziy mengatakan bahawa kekhuatiran terhadap anak-anak saat itu kerana najis-najis yang sangat disukai oleh syaitan biasanya masih melekat pada diri mereka, dan zikir yang mencegah gangguan syaitan tidak dimiliki oleh anak-anak itu.
Ketika syaitan-syaitan berkeliaran biasanya bergantungan pada apa saja yang boleh mereka jadikan gantungan. Kerana itu dikhuatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada anak-anak itu. Hikmah yang ada pada berkeliarannya syaitan-syaitan itu adalah kerana gerakan mereka pada malam hari lebih hebat dari di siang hari. Sebab, kegelapan dapat menghimpun kekuatan mereka. Demikian pula halnya dengan segala yang berwarna hitam. Itulah sebabnya, maka dalam hadis Abi Dzar disebutkan bahawa, “Anjing hitam itu adalah syaitan.” Hadis ini di-takhrij oleh Muslim. (Lihat Fat-h Al-Bari fi Syarh Shahih Al-Bukhari, jilid VI, hlm. 393.)
Adapun petunjuk Nabi s.a.w., untuk memadamkan lampu-lampu, maka yang dimaksudkan adalah lampu-lampu minyak tanah, agar tidak tumpah dan membakar rumah saat penghuninya sedang tidur. Misalnya, syaitan membuat terkejut binatang tertentu, sehingga melanggar lampu tersebut, dan tumpah, lalu menimbulkan kebakaran. Dalam hadis dengan sanad sahih yang diriwayatkan oleh Ibn Hibban disebutkan bahawasanya Rasulullah s.a.w. berkata,(maksudnya) “Apabila kalian tidur, maka padamkanlah lampu-lampu kalian. Sebab, syaitan-syaitan berkeliaran seperti tikus-tikus dan melanggar (lampu-lampu kalian) sehingga kalian terbakar”
Iaitu ketika malam tiba, kalau sekiranya kegelapan itu diangkat dari kalian, nescaya kalian akan dapat melihat apa yang ada di sekitar kalian. Ada pula di antara mereka yang pandai mengganggu anak-anak kecil, misalnya dengan membuat mereka bertengkar satu sama lain, atau membuat barang permainan salah seorang di antara mereka menarik keinginan kawannya untuk memiliki, sehingga mereka berebutan dan berkelahi, bahkan sampai ada yang mati. Sering pula pertengkaran yang dikobarkan syaitan di kalangan anak anak itu memancing keterlibatan orang tua dan keluarga masing-masing. Dalam keadaan seperti itu, syaitan semakin meningkatkan jumlah mangsanya, sehingga pertengkaran tersebut semakin menjadi-jadi, dan akhirnya menimbulkan kejahatan.”
Sekali waktu betul-betul terjadi syaitan menampakkan diri dalam bentuk bola yang dimiliki seorang kanak-kanak yang duduk di atas basikalnya yang mulai bergerak. Tiba-tiba anak itu diingatkan terhadap bola itu, dan dia berusaha untuk menangkapnya, tetapi gagal kerana bola itu seakan-akan ada yang melemparkannya dengan kuat. Anak itu berusaha mengejar dengan sekuat tenaga, sampai akhirnya dia terjatuh dan patah lengannya. Bola tersebut jelas adalah syaitan.
Sampai begitu rupa perbuatan syaitan-syaitan itu? Lantas di mana otak orang-orang itu?” tanya saya sengit.
- “Tentu saja orang yang berakal dan bijak akan selamat dari gangguan seperti ini. Akan tetapi ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, maka kesedarannya menjadi hilang. Syaitan hafal betul akan hal itu. Kerana itu, mereka segera mengumpulkan pasukan untuk menjatuhkan orang yang seperti itu.”

Sumber:
Muhammad ‘Isa Dawud (Wartawan Mesir). 1996. PENGALAMAN RUHANIYAH MUHAMMAD ISA DAWUD – DIALOG DENGAN JIN ISLAM. Kuala Lumpur: Pustaka

Tiada ulasan:

Catat Ulasan